Skip to main content

DUNIA


Perempuan itu berlari tergesa di lorong rumah sakit itu. Derap langkahnya menggema dan deru napasnya beradu. Di ujung lorong terlihat punggung ringkih yang bergetar itu. Dipacunya kakinya agar berlari lebih cepat.
“Ibu!” teriaknya.
Sosok itu menoleh dan terlihatlah raut letih dan mata sembabnya. Tubuh itu langsung memeluk putrinya dan menumpahkan tangisannya dalam dekap putrinya. Putrinya hanya bisa mengelus punggung ibunya sambil sesekali berusaha menenangkan ibunya.
Setelah beberapa menit, ibunya melepaskan pelukannya dan meredakan isakannya. Dibimbingnya ibunya menuju kursi tunggu. Ketika dilihatnya ibunya telah tenang, barulah ia memulai pembicaraan.
“Gimana, Bu?”
“Tadi pagi, masih kayak biasanya. Ibu lagi buat kopi, dan ayah di ruang tamu baca koran. Pokoknya kayak biasanya lah. Lalu pas ibu kedepan, ayah udah jatuh dari kursi.” Jelas Ibunya. Dapat dilihat oleh Nia guratan sendu di wajah ibunya. Tergambar jelas ketakutan ibunya itu.
“Lalu yang bawa ayah siapa Bu?”
“Oh itu, Ibu minta tolong sama Om Toga”
“Jadi, apa kata dokter? Apa belum ada pemberitahuan, Bu? Suster belum kasih penjelasan? Ini sudah hampir 5 jam astaga!” Tanya Nia gelisah. Bagaimana tidak, ia gelisah bukan main ketika ibunya menghubunginya disertai isakan itu dan mengatakan bahwa ayahnya sedang kritis. Tanpa pikir panjang, Nia segera mencari tiket dan langsung terbang ke kota kelahirannya ini.
“Belum, Nak. Suster sudah menjelasakan, tapi  ibu tidak mengerti. Ibu hanya menangkap bahwa kita disuruh menunggu karena operasinya akan memakan waktu lama.” Sahut ibunya. Itu adalah percakapan terakhir Nia dengan Ibunya sebelum ia larut dalam lamunannya.
Nia tidak habis pikir, kenapa ayahnya masih menghisap benda mematikan itu. Sudah banyak contoh kasus yang harusnya membuat ayahnya itu berhenti. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Ayahnya sungguh keras kepala. Nia bukan tipe anak yang dekat dengan orangtuanya. Tidak, itu bukan Nia. Ia hanya mengingatkan ayahnya beberapa kali. Sekali tidak didengarkan, Nia tidak akan ambil pusing walaupun ia peduli.
Nia cenderung tertutup dengan orang lain, bahkan dengan keluarganya sendiri. Bukan berarti ia tidak memiliki alasan. Alasan yang membuatnya menjadi perempuan seperti ini. Semua dimulai dari ketika ayahnya meninggalkannya, meninggalkan mereka.
Ayah dan ibunya memang sedari dulu sering bertengkar. Hanya satu masalah yang selalu jadi topik langganan pertengakaran orang tuanya. Apalagi kalau bukan uang. Ayahnya yang berprofesi sebagai pedagang bakso yang memiliki ruko kecil dipinggir jalan itu tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi. Setiap malam Nia akan mendengar suara geraman marah ibunya jika pendapatan hari itu kurang dari yang seharusnya. Nia telah terbiasa. Tetapi keluarga Nia tetaplah keluarga yang berkecukupan. Pengahasilan ayahnya masih dapat menyokong kehidupan mereka. Nia masih dapat beli mainan, ibunya bisa ikut arisan tetangga, dan kakaknya dapat memiliki sepeda impiannya. Cukup tapi tidak berlimpah. Begitulah keluarga kecil mereka. Tapi dengan sifat ibunya yang selalu curiga pada ayahnya selalu menyulut pertengkaran terjadi. Ayahnya memang bukanlah laki-laki berlatar belakang baik dan bukan pula berasal dari keluarga terhormat. Ayahnya hanya lulusan SD yang kabur dari rumah ketika itu dan merantau kemana mana. Ayahnya juga pernah masuk penjara ketika Nia kelas 1 SD. Tapi Nia tidak pernah marah, malu ataupun kecewa pada ayahnya. Untuk Nia, ayahnya tetaplah pahlawan di keluarga mereka. Sampai pada saat itu. Sosok ayahnya yang bagai malaikat telah hilang. Ayahnya meninggalkannya bersama ibu dan kakaknya. Padahal saat itu Nia baru berumur 10 tahun, dan kakaknya baru akan menginjakkan kaki di SMP. Tapi ayahnya tega meninggalkan mereka demi seorang perempuan. Ya, ayahnya berselingkuh.
Ayahnya lari dari rumah ketika malam hari. Ia berkata pada ibunya akan pergi nongkrong bersama temannya yang lain. Tapi hingga fajar menjelang, ayahnya tak kunjung pulang. Dari situlah Nia mulai merubah pandangannya, melahirkan sosok Nia yang baru, membuka matanya agar sadar bahwa dunia ini kejam padanya, pada keluarga kecil mereka.
Nia yang ceria, ramah dan senyum yang selalu terukir di wajahnya telah hilang. Nia hanya senyum seperlunya. Nia yang dulu yang selalu menangis hanya karna kakaknya mengganggunya sudah tidak ada. Nia sudah tidak selemah dulu. Ia tidak akan membuang air matanya sia-sia. Nia yang sekarang adalah Nia yang tangguh, Nia yang berpikir kritis, bukan lagi Nia yang naïf dan lemah. Waktu telah merubah seorang gadis kecil yang manis menjadi perempuan bermental baja.
Sejak ayahnya meninggalkan mereka, Nia yang membantu ibunya berjualan. Ketika fajar tiba, Nia yang akan membuat sarapan untuk kakak lelakinya, membereskan rumah sebelum berangkat sekolah karna ibunya sudah berangkat ke pasar. Tidak ada antar jemput, tidak ada uang jajan. Nia akan berjalan kaki kesekolahnya dan untungnya sekolahnya tidak jauh dari rumah mereka. Sepulang sekolah, Nia akan ke warung bakso milik mereka dan membantu ibunya hingga tutup. Malamnya, Nia akan membantu ibunya membuat bakso untuk dijual esok hari. Setelah itu, tentu saja Nia tidak langsung tidur, karna ia punya kewajiban sebagai pelajar. Ditegah malam ia akan mengerjakan tugas dan mengulang pelajaran yang telah disampaikan. Begitulah keseharian gadis itu.
Setiap malam ketika sedang belajar, Nia akan sesekali mendengar isakan kecil ibunya. Ia tahu, Nia sungguh tahu apa yang terjadi pada keluarganya. Ibunya merindukan sosok ayahnya ditengah malam, dan Nia benci ibunya yang lemah. Bagaimana bisa ibunya masih mencintai lelaki yang telah menghianati dan menghancurkan keluarga kecil mereka? Nia sungguh benci ibunya yang lemah, karena menurutnya , orang yang lemah akan terus ditindas oleh orang yang kuat dan Nia akan berjanji pada hatinya bahwa ia tidak akan menangisi lelaki brengsek manapun.
Sesungguhnya, ia tidak pernah membenci ayahnya, tidak sama sekali. Karena menurutnya, ayahnya memiliki segunung kebaikan yang sulit untuk dilupakan hanya karna ayahnya pernah menghianati kepercayaanya. Ia hanya kecewa, kecewa pada ayahnya, kecewa pada keadaan dan pada dunia. Ia benci, benci dimana ia harus hidup di dunia yang menyesakkan ini. Dan ia benci pada dirinya sendiri.
Ia tumbuh menjadi gadis cemerlang. Ia mendapat beasiswa kedokteran disalah satu universitas negeri di Bandung. Dan saat itulah ia melepaskan ibunya, meninggalkan kota kelahirannya. Ia merantau seorang diri dengan tabungan yang tidak seberapa. Ia memulai awal yang baru di kota besar itu.
Pada tahun pertama, ia sengaja tidak pulang ke kampung halamannya. Karena selama liburan ia bekerja untung menghidupi dirinya sendiri. Ia telah meminta ibunya untuk tidak mengirimkan uang lagi padanya. Nia hanya ingin ibunya beristirahat dan tidak usah bekerja terlalu keras lagi. Nia sudah besar dan kakaknya pun begitu. Ibunya sudah tidak perlu pusing memikirkan mereka berdua.
Ditahun kedua, hasil kerjanya, ia dapat menabung dan bisa pulang ke kota kelahirannya. Ia begitu rindu masakan ibunya. Tetapi ketika ia sampai di rumah, betapa terkejutnya ia mendapati sosok itu di teras rumahnya. Sosok yang telah hilang betahun-tahun silam. Sosok yang hilang dalam rencana masa depannya. Sosok yang pernah menjadi cinta pertamanya. Ayahnya.
Nia begitu marah pada ibunya. Bisa-bisanya ibunya menerima ayahnya. Dari penjelasan ibunya, Nia tahu bahwa ayahnya pulang karena selingkuhannya itu telah meninggal akibat gagal ginjal. Hah! Yang benar saja! Apakah ayahnya sungguh tidak punya hati atau ibunya yang terlalu bodoh karena cinta? Ayahnya meminta bantuan pada ibunya untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Hutang-hutang itu berasal dari pengobatan selingkuhan ayahnya. Karena tidak memiliki uang, ayahnya meminjam dan akhirnya setelah perempuan itu meninggal, ia tidak dapat mengembalikan hutangnya dan beralih pada ibunya untuk meminta bala bantuan. Pantas saja ketika Nia bilang tidak usah mengirim uang lagi, ibunya langsung meng-iyakan tanpa bertanya lebih lanjut. Mengetahui semua itu, menambah kekecewaannya pada ayahnya. Kemana sosok hangat yang selalu menggelitikinya dulu? Kemana ayahnya yang selalu membelikannya permen sepulang sekolah? Kemana lelaki yang selalu meredakan tangisannya dengan candaan usil nya? Kemana semua sifat yang selalu membuat Nia monomer-satukan ayahnya? Kenapa ayahnya menjadi sosok yang tidak Nia kenal lagi? Ketika itu, Nia langsung saja pergi kerumah neneknya dan memilih untuk tinggal disana beberapa hari sebelum ia berangkat ke Bandung. Hancur sudah semua rencana yang ia siapkan untuk berlibur.
Nia menjalani kehidupannya seperti biasa di Bandung. Kuliah dan bekerja. Tujuan Nia saat itu hanya ingin cepat wisuda dan mencari pekerjaan untuk menghidupinya. Berbulan-bulan setelah Nia mendapati ayahnya di teras rumahnya, ia tidak menghubungi ibunya. Sampai pada akhirnya, ia sudah tidak mendapatkan telpon dari ibunya lagi, melainkan mendapati ibunya berdiri di depan pagar gedung kos yang ditempatinya. Ia terkejut dan lebih terkejut karena ada ayahnya juga disana. Ibu dan ayahnya datang untuk meminta maaf. Ayahnya terutama. Melihat garis-garis menahun yang ada di wajah ayahnya, membuat Nia sadar, ia bukan lagi anak kecil dan seharusnya ia bisa berpikir dewasa untuk memaafkan ayahnya. Nia tercenung saat melihat wajah ayahnya yang telah menua. Tidakkah ayahnya merasa menyesal karena melewatkan pertumbuhan Nia dan kakak lelakinya? Tidakkah ia merasa kehilangan waktu untuk menyaksikan anak-anaknya tumbuh? Tidakkah ia berpikir kakak lelakinya juga butuh sosok ayah untuk pertumbuhannya? Tidakkah ayahnya menyesal melewatkan semua itu? Nia hanya bisa memaafkan ayahnya, bukan berarti Nia bisa melupakan apa yang ayahnya telah lakukan kepadanya dan keluarganya. Semua memang kembali seperti semula, tapi tidak lagi sama.
“Hei.” Nia terperanjat merasakan hangat dibagian pundaknya. Ternyata kakak lelakinya, Angkasa.
“Loh? Mas Kasa kapan datangnya?” Tanya Nia heran. Ia melirik kearah ibunya dan ternyata ibunya telah terlelap. Astaga, berapa lama ia melamun tadi?
“Baru aja. Gimana perkembangannya?” Nia melihat ke arah kakaknya yang masih berseragam militer. Ya, kakaknya itu memilih menjadi seorang tentara. Dilihat dari penampilannya, pasti kakaknya ini langsung menyusul juga seperti dirinya.
“Yah gitu. Belum ada yang keluar dari tadi.” Sahut Nia.
Beberapa detik setelah Nia menjawab, pintu itu pun terbuka. Ibunya terperanjat dari tidurnya dan langsung menghampiri dokter, begitu pula kakaknya. Ia memilih tetap duduk daripada mendengar penjelasan dokter. Karena ia tahu apa hasilnya dilihat dari waktu operasi yang lama.
Setelah dilihatnya ibunya menangis, Nia tahu apa yang dipikirkannya benar. Sudah lama memang ayahnya sakit-sakitan. Nia hanya memantau dari jauh dan sesekali mengingatkan ayahnya untuk minum obat dengan teratur. Nia mulai bersikap seperti anak pada umumnya walaupun tidak sehangat dulu. Nia belajar mengikhlaskan apa yang pernah terjadi padanya dulu.
Nia beranjak dan melihat ayahnya yang terbaring diranjang rumah sakit. Ibunya telah terisak dalam dekapan Angkasa. Nia dapat melihat kesadaran ayahnya yang satu-dua.
“Ayah lihat kan akibat karena ayah yang selalu mengkonsumsi benda itu?” Tanya Nia pelan. Sekarang ia hanya ingin menyadarkan ayahnya bahwa ayahnya telah berada dijalan yang salah. Dulu maupun sekarang.
Angkasa mendekati ayahnya dan menggenggam dengan erat jemari ayahnya.
“Yah, Ayah bisa tidur sekarang. Sudah tidak perlu lagi pikirkan anak ayah. Anak ayah yang ini sudah bisa menjaga Negara yang besar ini. Anak ayah yang cantik itu sudah bisa menyembuhkan orang yah. Kita udah sanggup jaga dan merawat ibu. Anak ayah udah sukses.” Kata Angkasa pelan sambil mengusap kepala ayahnya.
Ayahnya hanya menatap tanpa fokus. Ya, ayahnya buta. Karna benda itu juga. Nia hanya meratapi ayahnya yang terbaring lemah. Ingin sekali kata itu terucap. Ingin sekali ia meminta maaf pada ayahnya karena telah mengacuhkan ayahnya dan bertindak seperti ayahnya itu tidak ada. Tapi bibirnya kelu. Yang keluar hanya bulir bening dari matanya. Ia mendekati ayahnya. digenggamnya tangan ayahnya.
“Yah,” Nia terisak.
Ayahnya hanya menggumam kata yang tidak jelas.  Ia melihat mata ayahnya dan terpengkur. Teringat lagi ia ketika selesai sidang sarjana nya dan ibunya menelpon mengatakan ayahnya kehilangan penglihatannya. Betapa hatinya sakit mendengar itu. Ia ingin ayahnya melihat ia mencapai cita-cita nya menjadi seorang dokter. Ia ingin ayahnya melihat ia memakai  toga dengan senyum bangga dan mengatakan; ayah, anak ayah udah jadi dokter seperti yang ayah mau, bisa nolong banyak orang. Tapi semua itu sirna karena penglihatan ayahnya yang hilang.
“Maaf, maaf. Nia, Maaf, Yah” Nia masih terisak dan kata itu keluar tak beraturan. Nia melihat ayahnya tersenyum samar dan ayahnya membalas genggaman tangannya. Dan saat itulah tiba. Ayahnya tersenyum dalam tidur panjangnya. Saat itulah keberanian Nia muncul. Semoga ayahnya mendengar.
“Yah, Dunia sayang Ayah.”


Comments